Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

SBY "Di Tantang" PM Palestina

 “Melalui Anda, saya mengundang Presiden Indonesia untuk mengunjungi Gaza,” ujar Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniya saat menerima Delegasi Kemanusiaan Indonesia, ACT dan BSMI di ruang pertemuan Perdana Menteri, Gaza City, Palestina, Kamis 29 Juli 2010. Haniya menganggap penting peranan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dalam upaya mendukung perjuangan Bangsa Palestina menuju kemerdekaannya.
Selengkapnya...

Bertemu Setelah 25 Tahun Berpisah

Bagaimana ketika kita kehilangan sesuatu yang sangat amat kita cintai, kita rindukan bahkan kita harapkan hilang dari kehidupan kita? Namun setelah 25 tahun berlalu sesuatu itu tiba-tiba saja muncul didalam kehidupan kita. Pasti kita akan merasa sangat bahagia. Begitu juga dengan info dibawah ini, semoga bermanfaat dan jangan lupa kasih komen ya....

Hujan mengguyur Arab Saudi ketika lebih dari 2 juta jama'ah calon haji, Rabu 25 November 2009. Hujan yang jarang sekali turun di Arab Saudi itu menggenangi tenda-tenda jemaah di kota Mina dan menyulitkan 2,5 juta jamaah yang hendak beribadah.

Tenda-tenda yang seharusnya akan menjadi tempat para calon haji melewatkan malam untuk berdoa dan merenung, bocor dan banjir. Kondisi ini dikhawatirkan bisa menimbulkan penyakit. Namun, menurut koresponden stasiun televisi CNN di Mina, Isha Sesay, hujan yang turun beberapa jam itu tidak menghentikan niat jemaah calon haji untuk beribadah.

"Mereka sudah menunggu bertahun-tahun untuk sampai di sini," kata Sesay. "Hujan adalah berkah. Mereka tidak akan membiarkan hujan menghambat jalan mereka," lanjut Sesay.

Seorang warga Mekah, Khaled Nemary, mengaku sudah seperempat abad dia tidak melihat hujan turun dengan derasnya. Sementara itu, menurut prediksi badan cuaca, hujan akan kembali mengguyur Arab Saudi sepanjang Jumat besok.

Menurut Sesay, tidak ada laporan kecelakaan atau peristiwa buruk menimpa jemaah calon haji yang tahun ini jumlahnya menurun karena kekhawatiran akan penyebaran flu H1N1.

Pemerintah Arab Saudi mengatakan, penyebaran flu H1N1 menyebabkan jumlah jemaah yang menjalankan rukun Islam kelima itu menjadi berkurang, meski jumlah jemaah internasional naik 17 persen.

Kemarin, kementrian urusan haji Arab Saudi mengatakan bawah jumlah jemaat kali ini 40 persen lebih sedikit. Sejauh ini, satu orang remaja dan tiga orang lanjut usia meninggal karena virus H1N1 saat menjalankan ibadah haji. Korban adalah remaja putri 17 tahun dari Nigeria, satu warga India, satu Sudan, dan satu jemaah wanita asal Maroko yang masing-masing berusia 75 tahun.

Para penjual juga merasakan dampaknya. Fahmi al-Rashidi mengatakan, dia sudah menurunkan harga emas yang dijual di tokonya di pasar Al-Ghaza, Mekah. "Saya kira ketakutan terhadap penyebaran flu dan naiknya harga emas membuat orang menahan diri untuk tidak berbelanja," kara al-Rashidi.

Semoga orang tua, saudara, tetangga atau teman kita yang sedang menjalankan ibadah haji dilindungi dan diberi keselamatan oleh Allah SWT hingga tiba di tanah air. Dan setibanya di tanah air, menjadi haji yang mabrur, bermanfaat buat rakyat yang ada disekitarnya, Amin.

Selengkapnya...

Kemana Akal dan Hatimu, Israel (2) .........????????

Otoritas Palestina membentuk komite khusus yang akan menyelidiki "jual beli organ tubuh" yang diduga dilakukan tentara-tentara Israel terhadap warga Palestina. Otoritas Palestina memutuskan untuk menyelidiki kasus ini menyusul artikel yang ditulis surat kabar Swedia, Aftonbladet dan makin mencuatnya desakan dari para keluarga korban di Palestina agar kasus tersebut diselidiki.

Tanggal 17 Agutus lalu, harian Aftonbladet memuat artikel berjudul "They Plunder the Organs of Our Sons" tentang dugaan tentara-tentara Israel yang menangkapi orang-orang Palestina untuk diambil organ tubuhnya dan dijual kembali ke pasar gelap. Artikel ini membuat pihak Israel berang dan mendesak pemerintah Swedia agar menolak artikel tersebut.

Sekjen Dewan Menteri Palestina di Ramallah, Hasan Abu Libda menyatakan, komite penyelidik itu dibentuk atas perintah dari otoritas Palestina berdasarkan artikel yang dimuat surat kabar Aftonbaldet. Dalam wawancara dengan Radio Palestina, Abu Libda menambahkan, komite itu akan bergerak dalam level internasional.

Menurutnya, otoritas Palestina merespon isu ini dengan serius karena pengambilan organ tubuh manusia secara paksa untuk diperjualbelikan adalah tindakan melanggar hukum internasional, melanggar hak asasi manusia dan melangar hukum agama.

"Kalau dugaan ini terbukti, kami akan mengambil langkah yang tegas," tukas Abu Libda.

Komite penyelidik akan melibatkan menteri dalam negeri, menteri kesehatan dan menteri luar negeri yang akan memimpin investigasi.

Pihak Israel sendiri sampai saat ini masih berupaya menempuh jalur hukum setelah gagal menempuh jalur diplomatik untuk membantah artikel tersebut. Rejim Israel mengancam akan mengajukan gugatan hukum terhadap Aftonbladet, dengan gugatan sebesar 7,5 juta dollar AS karena dianggap telah memfitnah Israel.

Sementara Donald Bostrom, wartawan lepas Aftonbladet yang menulis artikel tersebut menolak tuntutan Israel untuk minta maaf. Ia menyatakan menulis artikel itu setelah melakukan penelitian dan mewawancari sejumlah keluarga Palestina yang kehilangan kerabatnya pada tahun 1992, di masa perlawanan Intifada.



Selengkapnya...

Jamaat-e-Islami Pakistan Minta Dunia Menyelamatkan Al-Aqsha


Jamaat-e-Islami Pakistan menegaskan keprihatinannya yang mendalam atas tindakan Zionis-Israel yang terus berusaha menghancurkan Masjidil Aqsha, yang terletak di Yerusalem. Israel tidak menghentikan tindakannya yang merusak dan menghancurkan Kiblat pertama umat Islam, serta usaha-usaha menghancurkan negara-negara Islam di Timur Tengah.

Peringatan itu disampaikan oleh Majelis Syuro Pusat, yang melakukan pertemuan selama tiga, dan mengeluarkan sebuah resolusi, yang menyerukan kepada Dunia Islam, agar mengambil langkah-langkah positip menghadapi tindakan Zionis-Israel,yang terus-menerus melakukan konspirasi terhadap tempat suci umat Islam, yaitu Masjidil Aqsha, ucap pemimpin Jamaat-e-Islami Pakistan,Qazi Hussain Ahmad.

Selanjutnya, dalam pertemuan Majelis Syuro Jamaat-e-Islami Pakistan itu, mengharapkan berlangsungnya rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah. Hanya dengan adanya persatuan antara Hamas dan Fatah itulah yang akan membuat frustasi Zionis-Israel. Persatuan antara Hamas dan Fatah itu menurut Qazi Hussain Ahmad yang akan dapat menyatukan kekuatan dalam rangka membebaskan Palestina dari penjajahan Israel.

Majelis Syuro itu juga mengharapkan para pemimpin negara-negara Islam dengan landasan Islam hendaknya bertanggungjawab atas kesalamatan Masjidil Aqsha, yang sudah digariskan oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI), sejak tahun 1969, yang mengeluarkan resolusi yang melindungi Masjidil Aqsha dari penghancuran yang dilakukan Zionis. Langkah-langkah secara sistematis yang dilakukan rejim Zionis menghancurkan Masjidil Aqsha ini semakin Nampak jelas, bersamaan dengan pembangunan pemukiman Israel, khususnya di wilayah Tepi Barat, serta penghancuran terhadap rumah warga Arab.

Qazi Hussain Ahmad juga menegaskan agar para pemimpin negara-negara Islam agar menolak segala usaha yang dilakukan oleh Zionis Israel untuk melakukan normalisasi hubungan diplomatik, dan apapun bentuk kerjasama selama penjajahan terhadap rakyat Palestina masih berlangsung. Jamaat-e-Islami Pakistan itu, juga menyerukan agar negara-negara Islam harus meminta kepada Washington tentang sikap mereka terhadap Zionis-Israel. Sejauh ini Washington telah mendukung Israel dan memusuhi negara-negara Islam, tambah Qazi Hussain.

Majelis Syuro Jamaat-e-Islami Pakistna itu juga mengingatkan bahwa Perdana Menteri Israel, yang pertama, David Ben Gurion, menyatakan, bahwa Israel tanpa Masjidil Aqsha dan Al-Qud. Jadi sejak semula Israel telah menginginkan agar Masjidil Aqsha dan Al Qud itu dihilangkan dari muka bumi. Dan, mereka ingin menggantikan dengan kuil Sulaiman, dan gagasan diwujudkan secara jelas sejak tahun 2007.

Disisi lain, Qazi Hussain Ahmad memprihatinkan adanya control lobby Yahudi terhadap Gedung Putih di Washington, dan selalu mendorong agar pemerintahan AS yang ada di Washington itu memberikan dukungan kepada Israel, dan menimbulkan ketidak adilan.

eramuslim.com



Selengkapnya...

Kemana Akal dan Hatimu, Israel....????



Ramadhan adalah bulan dimana pahala dilipat gandakan oleh Allah SWT. Oleh karena itulah Umat Islam diseluruh dunia berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kwalitas dan kwantitas ibadah kepada Allah SWT. Mulai Tilawah/Tadarus, Qiamullail/Tarawih, sampai sholat berjama'ah di Masjid. Mereka berbondong-bondong melakukan sholat berjama'ah di Masjid, Musholla setempat.

Hari Jumat tanggal 28 Agustus 2009 merupakan sholat Jumat pertama yang dilakukan oleh Umat Islam di seluruh dunia di bulan Ramadhan 1430 H ini. Begitu mudahnya kita dan Umat Islam di seluruh dunia telah melakukan ibadah sholat Jumat tersebut. Sebab tidak ada halangan dan rintangan yang di hadapi.

Akan tetapi tahukah kita, bahwa ada sebagian saudara kita yang begitu sulitnya melakukan ibadah sholat Jumat pertama kali di bulan Ramadhan ini? Padahal mereka telah berada di dalam negara mereka sendiri. Ya, mereka adalah saudara kita yang ada di Palestina. Ada lima orang warga Palestina di tangkap oleh pasukan Israel ketika mereka ingin sholat di dalam kompleks tempat suci ketiga bagi umat Islam masjid Al-Aqsha pada Jumat kemarin yang bertepatan dengan sholat Jumat pertama di bulan Ramadhan ini. Sholat yang dilaksanakan di kompleks masjid Al-Aqsha dijaga oleh ribuan tentara Israel yang berada di Yerusalem. Menurut perkiraan polisi Israel ada sekitar 90.000 umat Islam Palestina yang sholat di sana.

Pihak berwenang Israel masih tetap melarang akses warga Palestina di tepi barat untuk sholat di masjid Al-Aqsha dengan menetapkan aturan bahwa yang boleh sholat disana hanyalah warga Palestina yang berusia diatas 50 tahun untuk pria dan 45 tahun keatas bagi wanita. Dibawah aturan pelarang yang dibuat Israel tersebut, hanya warga Palestina yang memiliki ijin yang boleh memasuki Yerusalem dari tepi barat.

Di pos pemeriksaan di Tepi Barat, bis-bis yang membawa ratusan orang Palestina berharap untuk bisa menghadiri sholat disana selama Ramadhan ini, namun karena adanya aturan yang dibuat oleh Israel kebanyakan dari mereka akhirnya kembali lagi membatalkan keinginan mereka untuk dapat sholat disana. Israel juga menutup tiga penyeberangan perbatasan ke Jalur Gaza pada hari Jumat, menurut kantor berita Palestina. Kota ini (Yerusalem) adalah tempat beradanya Masjid Al-Aqsa, menjadi kiblat pertama kaum Muslimin dan merupakan tempat ketiga tersuci bagi umat Islam setelah Makkah dan Madinah.

Maknanya telah diperkuat oleh kejadian Al Isra'a dan Al Mi'raj - perjalanan malam dari Mekah ke Al-Quds dan naiknya Nabi Muhammad SAW ke Surga. Al-Quds juga merupakan wilayah bagi beberapa tempat ibadah suci Kristen, termasuk Gereja Yerusalem dan Gereja Ortodoks Yunani.

Israel telah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk men "Yahudikan" kota suci tersebut dan mengubah identitas Islam disana. Dengan mengadopsi serangkaian langkah-langkah penindasan untuk memaksa orang-orang Palestina keluar dari sana, dengan secara sistematis melakukan pembongkaran rumah mereka.



Selengkapnya...

Fenomena Orang Berilmu dan Orang Tidak Berilmu



Beginilah jika ulama dan umat berseberangan. Akhir pekan lalu, secara tegas, ulama Saudi melarang Festival Film Jeddah yang sedianya dilaksanakan pertengahan bulan ini atau selama pekan kemarin. Larangan ini mendapatkan tentangan dan reaksi keras dari rakyat Saudi.

Seperti diketahui, sekarang ini rakyat Saudi haus akan hiburan. Rakyat Saudi menginginkan adanya konser musik dan film-film di bioskop seperti di negara-negara lainnya.

Nah, dilaksanakanlah Festival Film Jeddah. Menyadari bahwa festival ini bertentangan dengan kultur dan nilai Saudi, para ulama Saudi langsung bernegosiasi dengan pemerintah dan keluarga kerajaan untuk melarang festival film ini. Hasilnya, negosiasi yang berlangsung selama 11 jam itu akhirnya “dimenangkan” oleh para ulama.

Larangan ini membuat rakyat Saudi menjadi berang. “Kami tadinya berharap akan terjadi perubahan dengan adanya Festival Film Jeddah dan di Khobar pada Festival Film Teluk. Tapi tampaknya (perubahan) itu bukan sekarang.” Ratap Mahmoud Sabbagh, salah seorang sutradara film.

Saat ini sebenarnya di Saudi tengah marak konser-konser musik dan pemutaran film yang dilaksanakan secara privat, namun melibatkan banyak orang. Fenomena ini oleh Pangeran Al Walid bin Talal, seorang anggota kerajaan, diendus sebagai lahan bisnis baru di negaranya. Maka tak heran, sekitar dua bulan lalu, Al Walid pun membuka bioskop pertama di Arab Saudi sepanjang sejarah. Heran, uang sudah banyak, mengapa masih mencari bisnis lewat jalan seperti ini, Pangeran?

Bagaimana menurut Anda dengan FENOMENA diatas...???



Selengkapnya...

Luna..., Yahudi Maroko Menemukan Kebenaran Islam

Luna Cohen, lahir di kota Tetouan, Maroko dari keluarga Yahudi. Pada usia 16 tahun, ia sudah meninggalkan rumah rumah keluarga di Maroko untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah khusus perempuan Bet Yaakov di Washington Heights, Manhattan, Amerika Serikat. Bet Yaakov adalah sebuah sekolah Yahudi Ortodoks yang dikenal rasis.

Usia 18 tahun ia memutuskan menikah lelaki yang sampai saat ini menjadi suaminya. Sejak menikah, Luna dan suaminya sampai tiga kali berpindah tempat tinggal di apartemen yang ada di Brooklyn, New York karena ia dan suaminya merasa tidak pernah bahagia tinggal di lingkungan masyarakat Yahudi di tempat tinggalnya. Pasangan suami isteri itu kemudian memutuskan untuk membangun masa depan di Israel. Luna beserta suami yang ketika itu sudah dikaruniai empat anak, akhirnya pindah ke Israel.

Ketika tiba di Israel, Luna dan keluarganya tinggal pemukiman Yahudi, Gush Qatif di wilayah Jalur Gaza. Luna mengaku menjalani masa-masa yang berat karena melihat "cara hidup" orang-orang Yahudi di tempat tinggalnya itu dan meminta pada suaminya agar mereka pindah saja ke Netivot, yang terletak sekitar 23 kilometer ke arah utara di wilayah pendudukan Israel di Palestina.

Di tempat itu, Luna lagi-lagi menyaksikan kehidupan masyarakat Yahudi Israel yang disebutnya tidak berpendidikan. "Mungkin cuma satu dari sejuta anak yang berperilaku baik," kata Luna. Ia menyaksikan bagaimana orang-orang Yahudi di Netivot, sama seperti di pemukiman Yahudi Gush Qatif, membenci orang-orang yang bukan Yahudi yaitu orang-orang Arab Palestina.

"Kami melihat tindakan mereka sebagai tindakan mereka yang buruk dan mau menang sendiri. Pada titik ini, saya dan suami tidak sepakat dengan sikap orang-orang Yahudi itu," ujar Luna.

Hingga suatu hari suami Luna yang juga Yahudi tapi sekuler, pulang ke rumah dan mengatakan bahwa baru saja membaca al-Quran dan memutuskan untuk masuk Islam. Luna tidak tahu, bahwa suaminya selama ini banyak mempelajari Islam lewat dialog yang dilakukannya dengan seorang Muslim asal Uni Emirat Arab yang dijumpainya saat masih tinggal di pemukiman Gush Qatif. Selama dua tahun suami Luna dan kenalan Muslimnya itu berdiskusi tentang Yudaisme dan Islam.

Mendengar pernyataan suaminya ingin masuk Islam, Luna mengaku sangat-sangat syok. "Karena dalam Yudaisme, kami selalu diajarkan untuk membenci agama lain," kata Luna yang sebenarnya mempertanyakan ajaran yang dinilainya "mau menang sendiri" itu.

Tapi sang suami cukup bijak dan mengatakan bahwa Luna boleh tetap memeluk agama Yahudi jika tidak mau masuk Islam, karena dalam Islam, seorang lelaki Muslim boleh menikah dengan perempuan ahli kitab. Suami Luna pun masuk Islam dan memakai nama Islam Yousef al-Khattab.

Dua minggu setelah suaminya masuk Islam, Luna tertarik untuk membaca al-Quran dan ketika ia membacanya, Luna merasa semua pertanyaan yang mengganjal di kepalanya terjawab semua dalam al-Quran. Luna lalu menyusul suaminya mengucapkan dua kalimah syahadat dan menjadi seorang Muslimah. Luna memilih nama Qamar sebagai nama Islamnya.

Karena situasi yang tidak memungkinan buat mereka untuk tinggal lebih lama wilayah Israel, keluarga mualaf itu lalu memutuskan pindah ke Maroko, negara asal Luna pada tahun 2006. Sampai saat ini, pasangan Yousef dan Qamar al-Khattab hidup bahagia di tengah saudara-saudara Muslim Maroko dan menemukan kehidupan sejati setelah menemukan kebenaran dalam jalan Islam.

Kasih Komentar Ya.....!!!!!
Selengkapnya...

Terry Holdbrooks: Dapat HIDAYAH Saat Bertugas di Kamp Guantanamo


Prajurit AS Terry Holdbrooks baru enam bulan bertugas di kamp penjara Guantanamo, Kuba. Seperti penjaga lainnya, tugasnya adalah menjaga dan mengawasi para tahanan, mendampingi tawanan yang sedang diinterogasi, berkeliling sel dan memeriksa tahanan agar tidak saling bertukar pesan dengan tahanan lainnya. Tapi malam itu, di awal tahun 2004, Holdbrooks yang sedang dapat shift jaga malam, merasakan malam berjalan begitu lambat dan membosankan. Tapi siapa yang mengira, malam itu menjadi malam bersejarah baginya karena membawanya pada agama Islam.

Untuk membunuh rasa bosan setelah berkeliling memeriksa seluruh sel, Holdbrooks berbincang-bincang dengan seorang tahanan berkebangsaan Maroko yang dikenal dengan julukan "Jenderal". Meski baru enam bulan bertugas di kamp Guantanamo, persahabatan antara Holdbrooks dan sang "Jenderal" yang nama aslinya Ahmed Errachidi, cukup dekat.

Saat itu hampir tengah malam, perbincangannya dengan Errachidi membuat Holdbrooks merasa makin skeptis tentang kamp penjara Guantanamo dan ia mulai memikirkan masa depan hidupnya. Holdbrooks lalu memesan buku-buku tentang Arab dan Islam.

Masih di awal tahun 2004, suatu malam, Holdbrook kembali berbincang-bincang dengan "Jenderal" kali ini tentang kalimat syahadat dalam Islam, sebagai pernyataan seseorang bahwa dirinya seorang Muslim. Malam itu, Holdbrooks memberikan pena dan selembar kartu index lewat celah jeruji penjara dan meminta sang "Jenderal" untuk menuliskan kalimat syahadat dalam bahasa Arab dan artinya dalam bahasa Inggris. Holdbrooks kemudian membaca kalimat syahadat dengan sudara keras, saat itulah, di lorong sel kamp Delta di Guantanamo, Holdbrooks menjadi seorang Muslim.

Cuma setahun, Holdbrooks bertugas di kemiliteran AS, tahun 2005 ia meninggalkan dinas militer. Dalam beberapa wawancara dengan Newsweek, ia dan beberapa mantan pejaga penjara kamp Guantanamo mengakui tindakan sadis dan penyiksaan terhadap para tahanan di kamp tersebut. Namun ia juga mengungkapkan adanya interaksi yang baik antara sejumlah penjaga dengan para tahanan. Mereka sering berbincang tentang politik, agama bahkan musik. Hal itu diakui Errachidi yang mendekam di kamp Guantanamo selama lima tahun dan dibebaskan tahun 2007.

"Para tahanan biasanya ngobrol dengan para penjaga yang menunjukkan sikap hormat pada para tahanan. Kami bicara soal apa saja, hal-hal yang biasa dan hal-hal yang sama-sama menarik perhatian kami," kata Errachidi dalam email yang dikirimnya dari Maroko ke majalah Newsweek, menguatkan keterangan Holdbrooks.

Terry Holdbrooks adalah produk keluarga yang berantakan. Ia tumbuh dewas di Phoenix, kedua orangtuanya adalah pecandu narkoba dan Holdbrooks sendiri seorang pecandu minuman keras sebelum bergabung dengan militer AS pada tahun 2002. Menurut TJ-panggilang akrab Holdbrooks-ia memutuskan masuk kemiliteran karena tidak ingin hidupnya berakhir seperti orangtuanya.

Holdbrooks adalah tipe anak muda yang hanya menuruti kata hati dan sedang mencari kestabilan dalam jiwanya. Seumur hidupnya, ia jarang bersentuhan dengan masalah keagamaan. Tak disangka, di kamp Gitmo ia justeru berteman dengan seorang tahanan yang taat dengan ajaran agamanya. "Banyak orang Amerika yang tidak peduli lagi dengan Tuhan, tapi di tempat seperti ini (kamp Gitmo) para tahanan dengan taat menunaikan salat," kata TJ.

Ketika Holdbrooks mengungkapkan keinginannya memeluk agama Islam, "Jenderal" Errachidi mengingatkannya bahwa menjadi seorang muslim adalah sebuah keputusan yang sangat serius, apalagi di kamp Guantanamo. "Errachidi ingin memastikan bahwa saya paham betul apa yang sedang saya bicarakan," kenang Holdbrooks. Namun ia tetap memutuskan menjadi seorang Muslim dan ia hanya memberitahu kemuslimannya pada dua rekan sekamarnya.

Para tentara lainnya mulai mencium adanya perubahan pada Holdbrooks karena mereka mendengar para tahanan memanggil Holdbrook dengan nama "Mustapha" dan melihat Holdbrooks dengan terang-terangan belajar bahasa Arab. Hingga suatu malam, kepala regunya memanggil ke sebuah lapangan dimana sudah ada lima penjaga lainnya. "Mereka mulai berteriak pada saya dan menanyakan apakah saya seorang pengkhianat, apakah saya beralih," tutur Holdbrooks. Dan malam itu, kepala regunya meninjunya, begitu juga dua penjaga lainnya.

Holdbrooks kemudian dikucilkan dan ia dipindahkan ke Ford Leonard Wood. Tapi beberapa bulan kemudian ia menerima surat pemberhentian secara hormat dari kemiliteran, dua tahun sebelum kontraknya dengan kemiliteran berakhir. Pihak militer AS tidak memberikan alasan ataupun penjelasan atau "pemecatan"nya itu.

TJ kembali ke Phoenix dan kembali ke kebiasaan lamanya, minum-minuman keras. Ia juga menceraikan istrinya. Kebiasaan minum alkohol akhirnya membawa Holdbrooks ke rumah sakit. Tak terduga, Holdbrooks kembali bertemu dengan Errachidi yang ternyata juga mengalami persoalan menyesuaikan diri setelah dibebaskan dari kamp Guantanamo. Dua sahabat ini saling berkirim email dan menyambung kembali persahabatan yang terputus.

Tiga bulan yang lalu, Holdbrooks yang kini berusia 25 tahun, berhasil menghentikan kebiasaan minumnya. Ia juga mendapatkan pekerjaan sebagai konsultan pendaftaran di Universitas Phoenix. Di dekat universitas ada sebuah masjid sekaligus pusat kegiatan Islam, Tempe Islamic Center. Holdbrooks rajin datang ke masjid itu untuk menunaikan salat berjamaah.

Ketika imam masjid Tempe Islamic Center, Amr Elsamny yang asal Mesir mengenalkan Holdbrooks pada seluruh jamaah dan menjelaskan bahwa Holdbrooks masuk Islam saat bertugas di kamp Guantanamo, para jamaah berebutan menyalami Holdbrooks.

Holdbrooks kini menjalankan ajaran Islam dengan taat. Bekas luka panjang di dahinya, hampir tak kelihatan karena tertutup kopyah yang selalu dikenakannya. "Saya selalu berpikir bahwa kamp penjara Guantanamo dijaga oleh tentara-tentara yang bengis dan kejam. Saya tidak berpikir bahwa ada tentara seperti TJ, yang justeru mendapat hidayah Islam di sana," komentar Imam Amr Elsamny, tentang Holdbrooks.

Kasih komentar ya.....!!!!!
Selengkapnya...

Michael: Kebenaran Itu Hanya Ditemukan Dalam Islam



Michael David Shapiro adalah seorang Yahudi Rusia. Dulu, ia tidak terlalu yakin dengan adanya Tuhan. Cita-citanya menjadi seorang bintang penyayi rock, tapi sekarang ia bekerja sebagai sekretaris dan tinggal di sebuah apartemen.

Pencarian jati dirinya dimulai ketika ia berusia 19 tahun. Suatu malam, berniat ke dapur dan bertemu dengan rekannya seorang kulit hitam. Ia bertanya pada rekannya itu,"Bolehkah saya menyimpan vodka di kulkas malam ini?". Tak diduga, pertemuan itulah yang mengubah hidup Michael secara drastis.

Teman kulit hitam yang dijumpainya di dapur adalah seorang Muslim dan dia adalah Muslim pertama yang pernah Michael jumpai. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, Michael mengajak lelaki kulit hitam itu berbincang-bincang tentang agama Islam. Tentang semua hal yang pernah Michael dengar seperti salat lima waktu, jihad dan sosok Nabi Muhammad saw.

Kemudian, teman mereka bernama Wade, seorang Kristiani bergabung dalam perbincangan itu. Jadilah mereka bertiga malam itu berdialog dengan Yahudi, Kristiani dan Muslim. "Ternyata kami menemukan banyak perbedaan dan banyak persamaan antara ketiga agama itu," kata Michael.

Setelah perbincangan itu, minat Michael yang selama ini hanya berkutat pada sex, narkoba dan pesta-pesta jadi berubah total. Ia mulai berminat untuk mencari kebenaran, mencari Tuhan, mencari bagaimana cara menjadi pengikutNya.

Ketika itu, kata Michael, ia memulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana pada dirinya sendiri seperti 'berapa sebenarnya jumlah Tuhan?'. Michael berpikir bahwa jumlah Tuhan pasti cuma satu. Tuhan akan lebih kuat jika cuma satu. Karena jika Tuhan dua, kalau ada salah satunya yang berbeda pendapat maka akan terjadi pertentangan dan pertikaian. "Maka saya berpikir bahwa Tuhan itu satu," kata Michael.

Ia juga memikirkan tentang eksistensi Tuhan dan menganalisa keyakinan atheist dan keyakinan theist-theist lainnya. Saya teringat akan kata bijak "Setiap disain pasti ada disainernya". Bertolak dari kata bijak itu, mata saya terbuka bahwa Tuhan itu ada. "Saya tidak bisa menjelaskannya mengapa, saya hanya bisa merasakannya," ujar Michael.

Hal-hal baru yang ditemukannya, membuat Michael berpikir bahwa ia harus bertanggungjawab untuk mematuhi Sang Pencipta dan itu artinya ia harus memeluk satu agama. Pertanyaan lain pun menyusul, 'darimana ia akan memulai? karena secara harfiah jumlah agama bisa ribuan dan ia perlu memperkecil jumlah itu. Langkah pertama yang Michael lakukan adalah mengelompokan agama-agama monoteis dan itu sejalan dengan keyakinannya bahwa Tuhan itu satu. Ia mencoret Budha dan Hindu dari daftarnya dan melingkari tiga agama monoteis yaitu Islam, Kristen dan Yudaisme.

Karena ia seorang Yahudi. Michael mulai mempelajari Yudaisme terlebih dulu, mulai dari konsep Tuhan, nabi-nabi, 10 larangan Tuhan, Taurat dan tentang 'roh keyahudian', satu hal yang menarik perhatian dan membuat Michael ragu. Ia berpikir, ide tentang 'roh keyahudian' tidak universal karena 'jika seseorang dilahirkan sebagai Yahudi, maka orang itu punya jiwa Yahudi dan harus menjadi pengikut Yudaisme. Bagi Michael, ide semacam itu diskriminatif. Ia berpendapat bahwa semua manusia diciptakan sama. "Mengapa seseorang yang dilahirkan dalam agama tertentu harus tetap memeluk agama itu meski jika seseorang itu menemukan bahwa keyakinan yang dianutnya salah?" itulah pertanyaan yang muncul di benak Michael dan ia tidak sejalan dengan konsep tersebut.

Hal lainnya yang membuat Michael ragu dengan Yudaisme, tidak ada konsep yang jelas tentang neraka dalam Yudaisme. Jika konsep itu tidak ada, kenapa seseorang harus berbuat baik atau melakukan dosa? "Jika saya tidak takut akan hukuman yang berat, jadi kenapa saya harus bermoral," pikir Michael.

Michael akhirnya meninggalkan Yudaisme dan beralih belajar kekristenan. Agama ini juga membuat Michael mundur karena konsep trinitas dalam kristen yaitu bapak, putera dan roh kudus. Ia berpendapat, bagaimana bisa Kristen mengklaik percaya hanya pada satu Tuhan, jika menganut konsep trinitas.

Michael juga menganggap sejarah Yesus dalam Kristen aneh dan tak masuk akal. Dalam doktrin Kristen, Yesus adalah anak Tuhan yang harus dibunuh untuk menyelamatkan manusia dari "dosa asal" yang dilakukan Nabi Adam. Dalam Kristen, Yesus mati untuk menebus dosa-dosa manusia.

Doktrin itu membuat Michael berpikir bahwa dalam agama Kristen seluruh umat manusia itu dilahirkan sebagai pendosa, yang melakukan perbuatan yang salah. Itu artinya, seorang bayi yang baru dilahirkan sudah berdosa karena melakukan hal-hal yang salah. "Doktrin yang aneh. Karena dosa satu orang, maka semua manusia harus menderita. Pesan moral apa yang disampaikan oleh doktrin semacam itu? Pemikiran seperti ini tidak masuk logika saya," ujar Michael.

Michael lalu mempelajari Islam. Ia menemukan bahwa Islam berarti patuh dan berserah diri. Prinsip dalam Islam adalah Tuhan yang Esa, salat lima waktu sebagai wujud ketaatan pada Tuhan, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan dan pergi haji jika mampu secara finansial. Konsep yang buat Michael tidak terlalu sulit untuk dipahami.

Apa yang Michael pelajari tentang Islam tidak ada yang bertentangan dengan logikanya, termasuk kitab suci al-Quran dengan keajaiban-keajaiban yang mengagumkan dan ajaran-ajaran yang tak lekang oleh waktu. Michael menemukan fakta-fakta ilmiah yang sudah dijelaskan dalam kitab suci al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu.

Dari sekian banyak hal yang Michael pelajari tentang Islam lewat buku-buku dan riset. Satu hal yang paling membuatnya tertarik adalah kata "Islam" yang dijadikan nama agama Islam disebut beberapa kali dalam al-Quran.

"Dari studi-studi yang sudah saya lakukan sebelumnya, saya tidak menemukan satu kalipun kata 'Yudaisme' ditemukan dalam Kitab Perjanjian Lama atau kata 'Kekristenan' dalam Kitab Perjanjian Baru. Saya heran mengapa saya tidak menemukan dua kata itu dalam dua kitab tersebut!" tukas Michael.

Ia lalu berpikir lebih dalam menemukan jawabannya. Kata Judaism bisa dipisah menjadi "Juda-ism". Begitu juga dengan Christianity bisa dipenggal menjadi "Chris-ianity". Siapakah Juda? Juda adalah salah satu pemimpin suku Yahudi. Jadi nama agama Judaisme diambil dari nama orang. Hal yang sama buat Kekristenan yang diambil dari kata Christ nama untuk Yesus.

Michael akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa Christianity dan Judaism tidak disebut-sebut dalam kitab suci karena kedua nama itu datangnya dari manusia dan bukan dari Tuhan. Sedangkan Islam adalah nama agama yang datangnya dari Tuhan.

"Oleh sebab itu ajaran Kristen dan Yudaisme tidak kredibel. Setidaknya dari perspektif saya, kedua ajaran tersebut tidak murni, tidak logis dan tidak lengkap," kata Michael.

Ia melanjutkan,"Islam adalah satu-satunya nama agama yang disebut-sebut dalam al-Quran. Ini punya arti yang besar buat saya."

"Saya sadar, bahwa saya harus mengikuti ajaran Islam. Kemudian saya memilih menjadi seorang Muslim. Saya telah menemukan kebenaran. Saya sudah keluar dari kegelapan dan menemukan cahaya ... cahaya Islam," tandas Michael.

Kasih komentar ya.....!!!!!


Selengkapnya...

Richard Leiman: Al-Quran Membimbingku ke Jalan Islam



Richard Leiman, seorang Yahudi AS, sejak kecil sering mendengarkan siaran BBC World Services terutama siaran tentang Timur Tengah. Dari BBC, ia bukan hanya sering mendengarkan lagu-lagu khas Timur Tengah yang digemarinya tapi juga lantunan ayat-ayat suci al-Quran. Tapi ketika itu, Leiman kecil belum paham tentang al-Quran apalagi mengenal Islam.

"Ketika saya dewasa, saya masih mendengarkan BBC World Service. Di BBC, setiap hari ada acara yang namanya 'Words of Faith', isinya ceramah pendek antara lima sampai delapan menit dari para pemuka agama yang mewakili lima agama yang ada di Inggris Raya. Dari seluruh penceramah, yang paling saya sukai ceramah-ceramah dari para pemuka agama Islam," ujar Leiman.

"Tiap kali perwakilan dari Muslim bicara, saya merasa ingin tahu lebih jauh tentang Islam. Kesan saya tentang Islam, bahwa orang yang memeluk agama Islam adalah orang yang hidupnya bahagia. Orang Islam tidak seperti orang yang digambarkan oleh media massa Amerika. Saya menolak percaya apa yang digambarkan media massa AS tentang umat Islam yang begitu mencintai Allah. Dan karena latar belakang saya Yahudi, satu hal yang menyatukan saya dengan Islam adalah keyakinan bahwa Allah itu satu," papar Leiman.

Pertemuan Pertama dengan Muslim

Meski tinggal di AS, Leiman mencari pekerjaan sampai di Inggris dan sempat tinggal beberapa waktu di Inggris untuk mencari peluang kerja. Leiman kembali ke AS karena tidak mendapatkan pekerjaan, tapi tetap rajin menulis lamaran kerja ke perusahaan-perusahaan di Inggris yang alamatnya ia dapatkan dari sebuah majalah yang diberikan sebuah agensi tenaga kerja di Inggris.

Usaha Leiman yang ahli dalam bidang program komputer ini membuahkan hasil. Ia diterima bekerja di perusahaan Logo Tech. Di perusahaan inilah ia bertemu dengan seorang Muslim untuk pertama kalinya. Nama Muslim itu Anis Karim yang juga supervisor di tempatnya bekerja.

Pada Karim, Leiman bertanya dimana ia bisa mendapatkan al-Quran dengan terjemahan. Tanpa disangka, beberapa hari kemudian, Karim memberikannya sebuah al-Quran. Karim juga meminta Leiman agar dalam keadaan bersih, paling tidak mandi dulu sebelum membaca al-Quran. "Tapi saya tidak pernah menunjukkan al-Quran itu pada orang lain, khawatir mereka menghina saya jika terlihat membaca al-Quran," kata Leiman.

Setelah mendapatkan al-Quran dari Karim, keesokan harinya Leiman langsung membaca terjemahan al-Quran setelah ia mandi dan sarapan pagi. "Saya menemukan perintah "bacalah", perintah Allah pada Malaikat Jibril untuk disampaikan pada Rasulullah Muhammad saw, meskipun Rasulullah tidak bisa membaca dan menulis," tutur Leiman menceritakan pengalaman pertamanya membaca al-Quran.

Saat itu sekitar tahun 1990-an. Leiman merasakan ketertarikan yang luar biasa pada Islam meski ia baru membaca 10 halanam al-Quran. "Sulit menjelaskan dengan kata-kata. Saya baru membaca 10 halaman, pada titik itu, hati kecil saya berkata, inilah agama buat saya. Makin banyak saya baca, saya makin penasaran dan makin menyukai apa yang saya baca," ujar Leiman.

Tapi pengetahuan Leiman baru sampai sebatas itu. Leiman belum tahu lebih detil tentang Islam bahkan tentang salat. Leiman cuma tahu orang Islam sujud ketika salat. Namun, tiap kali Karim mengajaknya pergi ke masjid di London, Leiman selalu ikut. Dari situ ia tahu bahwa umat Islam menunaikan salat lima waktu sehari semalam dan Leiman mulai mencoba salat pada malam hari sebelum ia tidur dan pada pagi hari, saat ia bangun.

Sayangnya, persahabat Leiman dan Karim berakhir karena ijin kerjanya di Inggris habis dan Leiman harus kembali ke AS.

Menjadi Seorang Muslim

Di AS, Leiman menganggur untuk beberapa tahun dan akhirnya ia pergi ke Huntsville, Alabama ke tempat ayahnya. Di kota inilah, Leiman menemukan kembali jejak Islam yang pernah ia pelajari ketika di Inggris.

Berawal dari rencananya berkunjung ke Indonesia bersama saudara perempuannya. Saudara perempuan Leiman memintanya membantu mencarikan perhiasan khas Islam yang akan diberikan pada sahabatnya di Indonesia. Leiman tidak tahu apakah di kotanya ada komunitas Muslim. Ia kemudian ingat ada sebuah toko bernama Crescent Import yang dikiranya dimiliki oleh Muslim, tapi ternyata bukan.

"Tapi Allah memberi petunjuk pada saya. Saya berbincang dengan pemilik toko dan ia memberitahu saya agar datang saja ke Huntsville Islamic Center jika ingin mencari perhiasan khas Islam," imbuhnya.

Leiman mengaku bersyukur pada Tuhan yang telah mengarahkannya ke masjid. "Saya agak takut masuk ke tempat itu untuk bertemu imamnya karena buat saya masjid adalah tempat suci. Tapi tiba-tiba saya ingat pernah bertemua seorang perempuan berjilbab dan bertanya tentang Islam. Perempuan itu juga menyuruh saya ke tempat ini. Saat itulah saya punya keberanian masuk ke masjid," tutur Leiman.

Ia berhasil menjumpai imam masjid, yang mengundangnya untuk ikut salat berjamaah. Inilah titik perubahan hidup Leiman. Ia mulai rutin datang ke masjid setiap seminggu sekali pada malam hari. Makin sering ia datang, makin kuat dorongan untuk ikut salat di masjid. Akhirnya, hampir tiap waktu salat Leiman menunaikan salatnya di masjid kecuali saat Ashar dan Magrib karena saat itu ia masih berada di kantor.

Bulan November 1996, Leiman baru secara terbuka mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang Muslim. Sejak itu, ia selalu salat Dzuhur dan Ashar sendirian atau berjamaah dengan sesama Muslim lainnya di sebuha masjid kecil di dekat tempatnya bekerja.

"Saya dengan bangga membawa sejadah saat berjalan di lorong kantor, dan menjawab pertanyaan setiap orang yang bertanya apa yang saya bawa. Setiap orang bertanya, saya jawab bahwa saya adalah seorang Muslim dan yang saya bawa adalah sajadah untuk alas salat," ujar Leiman bangga.

"Di meja kerja, saya juga menempelkan beberapa hiasan islami, termasuk di komputer saya yang selalu menggunakan gambar latar Ka'bah atau masjid," sambungnya.

"Sekarang saya seorang Muslim, saya tidak mau kembali ke masa saya menjadi seorang non-Muslim!" tandas Leiman.

Kasih komentar ya.....!!!!!



Selengkapnya...

Konsep Trinitas Tak Masuk Akal, Kathryn Memilih Islam


Kathryn Bouchard dibesarkan dalam lingkungan keluarga Katolik yang moderat. Kedua orangtuanya adalah guru sekolah Katolik. Hubungan antar keluarg mereka terbilang akrab satu sama lain. Kathryn yang asal Kanada menghabiskan masa remajanya di London dan Ontario. Seperti penganut Katolik lainnya, ia pergi ke gereja setiap hari minggu, sekolah di sekolah Katolik hingga ke jenjang universitas. Kathyrn kuliah di Brescia University College, sebuah perguruan tinggi Kristen khusus perempuan yang berafiliasi dengan Universitas Western Ontario.

"Meski saya dibesarkan dalam lingkungan Katolik, orangtua mendorong saya untuk berteman dengan beragam orang dari berbagai latar belakang dan boleh menanyakan apa saja berkaitan dengan kehidupan dan agama," kata Kathryn.

Konsep Trinitas Yang Tak Masuk Akal

Ia mulai mempelajari agama-agama dalam usia yang relatif masih mudah ketika ia berusia 16 atau 17 tahun dan masih duduk di sekolah menengah. Kathryn mengatakan, ia tidak mau menjadi bagian dari sebuah agama hanya karena ia sudah menganut agama itu sejak ia dilahirkan. Itulah sebabnya, Kathryn tidak sungkan mempelajari beragam agama mulai dari Hindu, Budha sampai Yudaisme. Ketika itu, ia hanya sedikt saja mengeksplorasi agama Islam.

Alasan Kathryn mempelajari beragam agama, salah satunya karena banyak hal dalam ajaran Katolik yang tidak dipahami Kathryn. "Kami sering kedatangan pendeta di sekolah dan kami melakukan pengakuan dosa. Saya pernah bertanya pada seorang pendeta,'Saya betul-betul tidak paham dengan konsep Trinitas. Bisakah Anda menjelaskannya?' Tapi pendeta itu menjawab 'Yakini saja'. Mereka tidak memberikan jawabannya," tutur Kathryn.

Ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang konsep Trinitas dalam agama Kristen, hingga ia di bangku kuliah dan mempelajari berbagai ilmu di seminari dan mempelajari teologi agama Katolik.

"Jika saya menanyakan tentang Trinitas, mereka akan menjawab 'ayah dan ibumu saling mencintai, ketika mereka memiliki anak, itu seperti tiga dalam satu dengan identitas berbeda'. Jadi, banyak sekali analogi yang diberikan untuk menjelaskan bagaimana Yesus bisa menjadi Tuhan dan menjadi anak Tuhan dan menjadi dirinya sendiri. Saya pikir banyak penganut Kristen yang menerima konsep ini tanpa memahaminya, " ujar Kathryn.

Ia lalu menanyakan konsep Trinitas ke beberapa temannya dan ia mendapat jawaban bahwa konsep Trinitas ada dan ditetapkan sebagai dasar kepercayaan dalam agama Kristen setelah Yesus wafat. Sebuah jawaban yang mengejutkan Kathryn, karena itu artinya semua dasar dalam ajaran Kristen adalah ciptaan manusia. Yesus semasa hidupnya tidak pernah bilang dirinya adalah anak Tuhan dan tidak pernah mengatakan bahwa dirinya Tuhan.

"Saya membaca Gospel Mathias pertama dan dalam Gospel itu Yesus tidak direferensikan sebagai anak Tuhan, tapi anak seorang manusia. Tapi dalam Gospel yang ditulis setelah Yesus wafat, banyak sekali disebutkan bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Dan disebutkan pula bahwa ada alasan politis dibalik argumen konsep Trinitas," papar Kathryn.

Ia melanjutkan,"Saya juga menemukan bahwa Yesus berdoa dan memohon pertolongan pada Tuhan. Jika Yesus minta pertolongan pada Tuhan, lalu bagaimana Yesus bisa menjadi Tuhan. Ini tidak masuk akal buat saya."

Mengenal Islam

Setelah menyelesaikan studinya di Ontario, Kathryn pindah ke Montreal dan di kota ini ia bertemu dengan banyak Muslim dari berbagai latar belakang mulai dari Eropa, Afrika dan Karibia. Keberagaman ini membuka mata Kathryn bahwa pemeluk Islam ternyata berasal dari berbagai latar belakang kebangsaaan. Fakta ini mendorongnya untuk lebih banyak belajar tentang Muslim dan latar belakang mereka.

Kathryn mulai membaca banyak referensi tentang Islam. Tapi ia menemukan bahwa contoh-contoh ekstrim tentang Islam di internet sehingga ia sempat berkomentar "Saya tidak mau menjadi bagian dari agama ini (Islam)." Oleh sang ayah, Kathryn disuruh terus membaca karena menurut sang ayah, dalam banyak hal sering terjadi salah penafsiran.

Kathryn pun melanjutkan pencariannya tentang Islam. Ia bergabung dengan situs "Muslimahs", sebuah situs internasional yang beranggotakan para Muslimah maupun para mualaf dari berbagai negara. Dari situs inilah ia banyak belajar dan bertanya tentang Islam.

Kathryn mengatakan banyak hal yang ingin ia ketahui tentang ajaran Islam. Misalnya, apa saja persamaan dan perbedaan ajaran Islam dan Kristen, bagaimana posisi Yesus dalam Islam, siapa Nabi Muhammad, masalah poligami dan berbagai isu Islam yang muncul pasca serangan 11 September 2001 di AS.

Selama kuliah di Montreal, Kathryn belajar banyak hal tentang Islam. Ketika ia pulang ke London, orangtuanya mengira bahwa Kathryn hanya rindu kembali ke rumah dan bukan untuk memperdalam minatnya pada Islam. Kathryn lalu membeli al-Quran dan buku-buku hadist. Pada ayahnya, ia bilang bahwa al-Quran bukan buatan manusia, ketika membaca al-Quran sepertinya Tuhan sedang bicara pada kita.

"Anda merasa bahwa ada juga kebenaran yang ditulis dalam alkitab, tapi Anda tidak akan merasa bahwa itu semua tidak ditulis langsung oleh Tuhan. Sedangkan al-Quran, Anda akan merasakan kebenaran yang sesungguhnya," ujar Kathryn.

"Saya juga menemukan banyak ilmu pengetahuan yang sudah lebih dulu diungkap oleh al-Quran dan baru muncul kemudian dalam kehidupan manusia. Saya pikir, al-Quran diturunkan pada manusia dengan tingkat emosional dan logis. Islam mendorong umatnya untuk berpikir dan mencari ilmu," sambung Kathryn.

Kathryn pun mulai belajar salat, datang ke ceramah-ceramah agama dan mengontak masjid terdekat untuk mencari informasi apakah masjid itu punya program untuk orang-orang sepertinya dirinya, yang berminat pada agama Islam.

"Pertama kali saya masuk ke masjid, saya menangis. Saya merasakan ada energi yang begitu besar yang tidak saya rasakan ketika saya ke gerejat," kisah Kathryn yang kemudian belajar membaca al-Quran di masjid itu. Ia terus belajar dan bergaul dengan para warga Muslim. Sedikit demi sedikit, Kathryn bisa mengubah gaya hidupnya.

Ditanya apakah orangtuanya keberatan dengan perubahan dirinya. Kathryn mengaku butuh waktu cukup panjang untuk meyakinkan orangtuanya bahwa ia tidak menjauh dari keluarganya jika memeluk Islam.

Mengucap Dua Kalimat Syahadat

Kathryn mengungkapkan bahwa ia sendiri tidak pernah menyangka akhirnya memutuskan masuk Islam dan itu semua terjadi begitu saja. Saat itu, di bulan Juni tahun 2008, seperti biasanya ia datang ke pengajian mingguan di sebuah Islamic Center. Ia sama sekali berniat mengucapkan dua kalimat syahadat hari itu. Tapi ketika ia tiba di gedung Islamic Center, banyak sekali orang-orang yang telah ia kenal hadir.

Hari itu, tema pengajian adalah umrah. Banyak anak-anak muda Muslim yang datang dan menceritakan pengalaman mereka ikut umrah serta bagaimana hidup mereka berubah setelah umrah. Pengajian dibimbing oleh Dr Munir El-Kassem. Saat Dr El-Kassem bertanya apakah ada diantara para hadirin yang ingin mengajukan pertanyaan, Kathryn dengan spontan mengangkat tangan dan berkata,"Bisakah saya mengucapkan syahadat?" Kathryn sempat kaget sendiri dengan pertanyaan itu karena ia merasa tidak merencanakannya. Semua terjadi begitu saja, spontan.

"Seketika ruangan menjadi sunyi dan saya pikir Dr El-Kassem juga terkejut. Saya memang mengenakan kerudung setiap kali datang pengajian sebagai bentuk penghormatan saya pada Islam. Dr El-Kassem lalu meminta saya maju ke depan dan menceritakan di depan hadirin bagaimana saya bisa sampai pada Islam," tutur Kathryn.

Kathryn mengaku gemetar ketika mengucapkan dua kalimat syahadat. "Tapi saya merasa hati saya begitu lapang, penuh dengan cahaya ibarat sebuah pintu hati yang terbuka. Saya mereka sudah mengambil jalan yang benar," ungkap Kathryn.

Itulah hari bersejarah bagi Kathryn, hari dimana ia memulai kehidupan sebagai seorang Muslimah. Tahun pertama menjalankan puasa di bulan Ramadhan, diakui Kathryn sangat berat. Namun ia merasa bahagia setelah menjadi seorang Muslim. Kathryn mengaku hidupnyan lebih teratur, disiplin dan sehat karena ia tidak lagi makan daging babi dan minum minuman beralkohol. Kathryn juga mengatakan bahwa ia kini tahu apa sebenarnya tujuan dan mau kemana arah hidupnya.

Kasih komentar ya.....!!!!!


Selengkapnya...

Aisha Robertson




Kehangatan Umat Islam Menuntunnya Menjadi Seorang Muslimah

Interaksi dengan teman-teman Muslim selama emapat tahun masa kuliahnya telah memberi pengaruh yang besar dalam kehidupan seorang Aisha Robertson. Interaksi itu membawa Aisha yang semula menganut agama Kristen pada jalan Islam, agama yang ia peluk sejak tahun 1991.

"Selama empat tahun, saya bergaul dengan teman-teman Muslim dan Muslimah. Mereka semua sangat baik dan banyak membantu saya menuju jalan kebenaran dengan sabar dan telaten," kata Aisha, nama Islam yang digunakan setelah mengucapkan dua kalimah syahadat.

Ketika itu, Aisha sedang menyelesaikan gelar masternya di bidang sejarah. Aisha yang kini berprofesi sebagai guru dan penulis lepas di Wisconsin, AS sebelumnya sudah menyelesaikan gelar kesarjanaan di bidang pendidikan dari Universitas Wisconsin.

Aisha mulai mempelajari Islam secara formal dua tahun sebelum ia memutuskan pindah agama ke Islam. Suatu malam di bulan Agustus tahun 1991, Aisha mencoba mencari berbagai referensi tentang kekristenan di dalam al-Quran. Saat itu, masih ada hal yang mengganjal hatinya dan mencegahnya memutuskan untuk memeluk Islam. Namun ia meyakini adanya jalan "kebenaran" dan jalan langsung untuk berdialog dengan Tuhan.

"Selama ini saya tidak pernah secara penuh menerima konsep-konsep dalam agama Kristen, yang mengatakan bahwa Kristen adalah jalan satu-satunya menuju Tuhan. Saya pernah menanyakan konsep Trinitas pada seorang pendeta, tapi ia tidak bisa menjawabnya yang membuat saya makin ragu dengan ajaran Kristen. Pendeta itu hanya menasehati saya untuk menerima saja konsep Trinitas itu sebagai sebuah keimanan," tutur Aisha.

Ia melanjutkan,"Dengan kata lain, ajaran Kristen tidak perlu masuk akal. Saya diminta mengimani saja konsep itu apa adanya, jika tidak berarti saya bukan seorang penganut Kristen yang baik. Hal ini sangat mengganggu saya. Saya berpikir, untuk apa Tuhan memberikan manusia akal dan pikiran jika kita tidak menggunakannya ketika kita menyangkut masalah penyembahan padaNya."

Itulah awal Aisha tergerak untuk mempelajari agama lain. Ketika berkunjung ke Jepang, Aisha sempat belajar agama Budha. Tapi ia merasa tidak nyaman karena harus menundukkan diri pada patung Budha. Ia pun kembali berusaha untuk menerapkan ajaran Kristen yang ia anut. Ketika itu, Aisha belum tahu sama sekali tentang Islam. Yang ia pahami, Islam hanyalah budaya dan tradisi orang-orang Arab. "Sebuah pemikiran yang sulit dipercaya. Sebagai seorang mahasiswi yang mempelajari sejarah, bagaimana bisa saya memiliki pandangan yang salah tentang Islam. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa buku-buku teks sejarah yang ditulis Barat sudah dengan tidak adil bersikap bias terhadap Islam." papar Aisha.

Akhirnya, malam itu, pencarian dan semua tanya Aisha terjawab. "Alhamdulillah. Saya membaca surat Al-Maidah ayat 82 sampai 85 dan malam itu saya makin yakin bahwa jauh di dalam lubuk hati saya, saya benar-benar ingin menjadi seorang Muslim," ujar Aisha.

Ia mengungkapkan, salah satu aspek yang sangat mempengaruhi keinganannya masuk Islam adalah karena ia melihat bukan hanya Muslim yang begitu semangat dan dengan bangga menjalankan ajaran Islam, tapi juga Muslim yang begitu toleran dengannya yang ketika itu masih seorang non-Muslim.

"Saya menemui banyak sekali Muslim yang seperti itu di Universitas. Saya melihat seorang Muslimah asal Malaysia, dengan anggun mengenakan jilbab dan baju Muslimnya yang panjang dan tanpa canggung berjalan ke kursinya di kelas. Saya bertemu dengan seorang Muslim yang sering datang ke toko buku tempat saya bekerja. Penampilannya selalu terlihat rapi dan bersih," ungkap Aisha.

Setelah memeluk Islam, barulah ia mengerti mengapa Muslim yang dijumpainya selalu terlihat segar dan bersih. Karena seorang Muslim berwudhu lima kali dalam sehari.

Suatu kali dalam perjalanan dengan pesawat terbang, pesawat yang ditumpangi Aisha mengalami turbulensi. Laki-laki yang duduk di sebelah Aisha, yang ternyata seorang pilot, dengan ramah dan sopan mencoba menenangkan Aisha yang gelisah dan ketakutan bahwa semuanya akan baik-baik saja sambil menjelaskan pada Aisha bagaimana pesawat bekerja dalam menghadapi kondisi semacam itu. Belakangan Aisha tahu, bahwa pilot yang dijumpainya itu adalah seorang Muslim.

"Akhirnya saya tahu bahwa mereka adalah Muslim dari berbagai penjuru dunia. Saya kagum dengan cara mereka membawa diri dan menyaksikan betapa mereka bangga menjadi seorang Muslim. Mereka juga sangat toleran dan baik pada saya yang non-Muslim," ujar Aisha.

Setahun sebelum Aisha bertekad masuk Islam, Aisha melihat pengumuman dialog Kristen dan Islam di majalah dinding gereja yang sering ia kunjungi. Di buletin itu Aisha membaca sedikit informasi tentang Islam. Yang membuat ia kagum, dalam buletin itu disebutkan bahwa saat itu ada sekitar satu milyar Muslim di seluruh dunia.

"Jumlah orang Arab saja tidak sampai satu milyar. Itu artinya Islam adalah agama untuk semua orang. Jika begitu banyak orang yang menganut Islam, pastilah ada kebenaran dalam agama itu," pikir Aisha.

Aisha tidak menghadiri dialog tersebut, tapi ia pergi ke perpustakaan untuk mencari arti al-Quran dalam bahasa Inggris. Tiga hari Aisha membaca terjemahan al-Quran dan ia mengakui bahwa Islam ada cara hidup dan berdasarkan pada keseimbangan antara keadilan dan pengampunan. Sejak itu Aisha bertekad untuk mencari tahu lebih banyak tentang Islam.

Beruntung, di universitasnya ada cabang organisasi Muslim Student Association. Dari sanalah Aisha banyak mendapatkan buklet-buklet berisi informasi tentang Islam dan berkenalan dengan para mahasiswa dan mahasiswi Muslim. "Saya banyak bertanya pada mereka tentang Islam, tapi tak satupun dari mereka yang mendorong-dorong saya untuk pindah agama. Saya mengagumi kesabaran mereka menjawab semua rasa keingintahuan saya tentang Islam," ungkap Aisha.

Setelah menjadi seorang Muslim, Aisha mengaku sangat bersyukur atas hidayah yang telah diberikan Allah swt padanya. "Saat itu saya seperti melangkah di atas angin. Saya ingin sekali belajar salat dan mengenakan jilbab, meski saya tahu orang akan menatap aneh pada saya dan memberikan komentar yang tidak mengenakkan," tutur Aisha.

Seperti mualaf pada umumnya, Aisha melalui masa-masa sulit untuk menjelaskan pada keluarga bahwa ia sudah menjadi seorang Muslim. Hampir semua teman non-Muslim Aisha menolaknya, tapi Allah swt memberi ganti teman-teman yang lebih baik buat Aisha.

"Saya pikir, cara terbaik untuk mengungkapkan rasa terima kasih saya pada Allah swt atas hadiah keimanan yang sangat berharga ini adalah dengan mengatakan bahwa hari-hari terburuk dan tersulit saya sebagai seorang Muslim jauh lebih indah dibandingkan hari-hari terbaik saya saat masih menjadi non-Muslim," tandas Aisha.


Kasih komentar ya.....!!!!!


Selengkapnya...

Pengikut