Memiliki Bayi, Serasa Memiliki Bom di Rumah

ADA ungkapan yang mengatakan bahwa memiliki bayi layaknya "melempar granat" ke dalam pernikahan. Hah "granat"? Ya! Anda seperti mendapat serangan tiba-tiba di dalam rumah.

Sejak memiliki baby, sepertinya rumah tak pernah rapi. Mulai dari tumpukan popok basah, pakaian kotor, sampai botol susu berserakan. Belum lagi tangisan bayi yang memekakkan telinga membuat Anda "tegangan" tinggi.

Nah, sebelum "granat" itu benar-benar meledak, pelajari dulu apa saja yang bakal menyerang Anda berikut solusinya:

Perubahan Hidup

Layaknya seorang jenderal berperang, Anda musti memiliki mata elang untuk memantau hidup si kecil. Sejak bangun tidur, beraktivitas, hingga dia tertidur lagi. Kenyataannya, siklus bayi tidak semulus yang dibayangkan. Sedikit saja lapar, haus, atau sakit, dia sampaikan lewat tangisan dan bahasa tubuh.

Dalam hal ini, sensor kepekaan orangtualah yang diuji. Apakah cepat tanggap dengan situasi yang dialami atau sebaliknya, membiarkan bayi menghadapi perubahan dirinya sendiri.

Saat si bayi rewel, misalnya. Anda akan terbangun untuk memantau bayi. Hal ini pun memengaruhi jam tidur. Kalau biasanya Anda berdua tidur selama 8 jam sehari, kini berubah. Anda berdua hanya tidur selama 2-3 jam per hari. Konsekuensinya tubuh orangtua pun beradaptasi. Awalnya mungkin Anda berdua sangat lelah, bahkan tubuh rasanya tidak fit.

Walaupun "granat" itu lumayan meledakkan emosi dan fisik, justru saat inilah Anda berdua belajar mensyukuri anugerahNya. Bayangkan! Hasil dari pertemuan sel sperma dan sel telur melahirkan sosok bayi luar biasa. Percayalah sayap malaikat bayi itu memberi kesejukan dalam batin. Entah lewat pelukan, ciuman dengan si kecil, timbul semangat baru yang mengiringi Anda berdua setiap kali beraktivitas.

Memasuki Zona Abu-abu

Meski waktunya sebentar, Anda akan merasa berada di zona abu-abu alias masih meraba-raba, tapi hal ini cukup menguras tenaga dan pikiran Anda.

1. Ketakutan

Setelah bayi lahir di rumah sakit, dibawa pulang ke rumah, tentulah hidup sebagai keluarga begitu sempurna. Tapi, masih ada yang mengganjal. Sebagai orangtua baru, Anda berdua belum berpengalaman menangani si mungil. Ada saja kekhawatiran yang menghantui Anda berdua, misal "Apa yang harus kita perbuat terhadap bayi ini?".

Cobalah rileks dulu. Pandangi paras si kecil dan sentuhkan diri Anda kepadanya, rasakan nafasnya. Khawatir sih sah-sah saja, tapi bila porsinya berlebih justru tidak rasional. Jadi bersikaplah bijak, seperti menduga-duga kalau kucing bisa mencekik bayi, dan Moms pun malas keluar rumah.

2. Tidak bisa tidur pulas

Memang, tidur itu penting. Tapi lain persoalan bila kini sudah hadir bayi mungil. Tangisan bayi sering kali menganggu, apalagi bila orangtua lelah. Artinya perlu dilakukan pembagian tugas menjaga si kecil secara bergantian oleh istri dan suami.

3. Buta soal perawatan bayi

Sebagai orangtua baru, banyak pertanyaan menggelayut di benak "Bagaimana saya tahu kalau bayi ini lapar?" umpamanya. Meski tidak bisa mengerti kebutuhan bayi dalam waktu singkat, justru inilah saatnya proses memahami fenomena bayi, mulai dari tangisan, menyusui, mengganti popok, dan sebagainya.

4. Tergoda melakukan affair

Pulang kantor, suami ingin bercengkrama dengan istri tercinta. Tapi, nyatanya, istri lebih memilih bayi. Urusan perhatian, bahkan bercinta pun kurang dihiraukan istri karena faktor kelelahan mengurus bayi.

Hati-hati loh Dads bisa terjadi affair! Mengapa? Kalau fokusnya hanya perhatian dan bermesraan saja, bisa saja tawaran "cinta" lain menjerat Anda. Karena itu, baik istri maupun suami saling memberi support dan pengertian satu sama lain. Arahkan tujuan Anda berdua kepada buah cinta Anda.

5. Bergandengan tangan mengasuh bayi

Kini, Anda berdua sudah tahu "granat" apa saja yang bertebaran. Tugas berikutnya adalah strategi menghadapi bom bayi ini. Yang jelas, lakukan komunikasi terbuka antara istri dan suami. Bicarakan apa saja yang Anda rasakan selama hadirnya si kecil. Ungkapkan segala suka dan duka Anda.

Selanjutnya, renungkan bersama apa saja rencana-rencana masa depan anak. Sehingga masing-masing mempunyai tanggung jawab terhadap anak. Kemudian biarkan romansa cinta itu tetap berkobar dengan merawat anak bersama-sama.




Comments :

5 komentar to “Memiliki Bayi, Serasa Memiliki Bom di Rumah”
Rossy R mengatakan...
on 

Memang sih seperti itu.. tapi janganlah dijadikan beban.. jadi klo kata iklan rokok "ENJOY AJA" sy punya baby baru satu skrg berumur 1th.. memang tidur jd berkurang dengan kehadirannya...

Muchlisin mengatakan...
on 

Bener kata Pak Rossy, jangan dianggap beban; bayi adalah anugerah bagi keluarga, ia juga generasi harapan kita jika proses taurits berjalan dengan baik.

Bagi yang belum memiliki, semoga Allah lekas mengaruniakan bayi-bayi yang menjadi harapan mereka.

akhatam mengatakan...
on 

Nikmati aja kali...itu kan anugrah tuhan yang paling besar...!!!

jalandakwahbersama mengatakan...
on 

Assalamu'alaikum,
Bayi adalah anugrah Allah untuk kita, jadi bayi sama sekali bukan beban. Banyak pasangan suami-istri diluar sana yang mendambakan hadirnya seorang anak, seharusnya kita menyukuri nikmat anak yang diberikan Allah untuk kita. Anak kita adalah anugerah dan amanah yang Allah berikan untuk kita. (Dewi yana)

reiyo mengatakan...
on 

ya namanya buah hati mas,, di balik ni semua toh ada bahagianya juga'

Pengikut